Tampilkan postingan dengan label Hidayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidayah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

Bila Waktu Telah Berakhir


Bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yg sementara
bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari
masikah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu

Dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya

Bila waktu tlah memenggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu telah terhenti
teman sejati tingallah sepi

Kamis, 07 Oktober 2010

Generasi Tahan Uji

Besar kecilnya tanggungjawab seseorang menjadi tanda kualitas syahadatnya, yang dapat diukur pada caranya memanfaatkan waktu. Seorang yang berkualitas selalu berusaha menumbuhsuburkan bibit syahadatnya agar dapat terus ditingkatkan lebih tinggi lagi. Tiada waktu tanpa peningkatan kualitas syahadat. Tiada program kecuali peningkatan iman. Tidak mati kecuali dalam puncak jenjang syahadat, pasrah diri kepada Tuhan.
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah engkau mati kecuali dalam Islam." (Q.S. Ali Imran : 102).
Rute perjalanan yang harus dilalui untuk membuktikan syahadat bisa dikatakan singkat, bisa juga panjang. Hal tersebut tergantung pada kadar mujahadah, dukungan ibadah dan ukuran besar kecilnya tanggungjawab yang dipikul.
Namun demikian, dibalik perbedaan jauh rute itu, ada kesamaan irama dan ritme perjalanan. Jurang yang terjal, tebing yang tinngi pasti ditemukan dalam perjalanan. Bahkan dengan tegas Allah merinci tikungan-tikungan tajam yang akan dilewati dalam perjalanan proses uji coba penentuan peringkat kadar kualitas syahadat dengan firman-Nya : "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang yang beriman bersamanya : 'Bilakah datangnya pertolongan Allah ?'. Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Q.S. Al-Baqarah : 214).
Ada tiga tebing tinggi dan jurang terjal yang harus dilewati sebelum seseorang sampai ke titik kenikmatan yang dijanjikan oleh Allah. Baik kenikmatan dunia apalagi yang di akhirat. Ketiga tebing dan jurang tersebut dialami oleh semua orang yang ingin menikmati surga, tak terkecuali Nabi dan Rasul Allah.
Sudah merupakan garis ketentuan Allah, atau sudah menjadi sunnatullah, hukum alam yang sudah pasti, bahwa untuk mencapai keadaan yang ideal diperlukan proses yang tidak ringan. "Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." (Q.S. Al-Ahzab : 62).
Andaikan para Nabi dan Rasul mengetahui jalan mulus menuju surga tanpa mengalami hambatan dan rintangan yang serba menyulitkan, tanpa malapetaka dan ujian, tanpa kesengsaraan dan kemiskinan, maka mereka tentu akan memilih jalan itu. Akan tetapi kenyataannya tidak begitu. Semua Nabi dan Rasul mengalami nasib yang sama, menempuh rute perjalanan dengan ritme dan irama yang sama. Mereka menderita, selalu ditimpa malapetaka, ditimpa kemelaratan yang tiada tara, juga dihantui oleh perasaan yang serba takut. Hanya imanlah yang memberikan kemampuan pada mereka untuk tetap berjalan dalam rel yang sudah ditentukan.

Bukan hanya itu, segala cobaan yang datangnya dari Allah mampu dimanfaatkan untuk mempertebal keimanan, bukan sebaliknya melemahkan iman. Syahadat memang memerlukan proses pembajaan. Dan proses pembajaan yang baik hanyalah melewati berbagai kesulitan, karena sesudah kesulitan itulah akan muncul kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (Q.S. Al-Insyirah : 5-6).

Rabu, 06 Oktober 2010

Kasih Sejati Seorang Ibu

Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya. “Bisa saya melihat bayi saya?” pinta ibu yang baru melahirkan itu penuh rona kebahagiaan di wajahnya. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, si ibu terlihat menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu. Bayi yang digendongnya ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.
Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”
Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.
Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata si ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”
Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.
“Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik si ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?”

Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.

Kamis, 26 Agustus 2010

Anak Shaleh

Anak shaleh adalah kekayaan yang sangat mahal. Mungkin karena saking mahalnya sehingga data yang mengungkapkan tentang anak yang shaleh begitu sulit terungkapkan. Anak shaleh nampaknya seperti misteri, keberadaannya ada, tapi mereka seperti sesuatu yang tidak ada.
Hal ini disebabkan, yang lebih banyak terdengar dan menghiasi lembaran informasi dunia justru aktivitas anak-anak nakal. Sekalipun mereka sering mengatasnamakan sebagai ABG atau remaja, bagaimanapun mereka adalah anak juga bagi orang tuanya, yang belum selayaknya melakukan tindakan-tindakan kriminal. Mereka itu bukan anak shaleh tapi 'anak salah' yang kian hari kian mengkhawatirkan. Terlepas dari kesalahan orang tua ataupun kesalahan anak sendiri, pemberitaan tentang anak-anak salah ini selayaknya telah cukup menyadarkan kita semua, bahwa memang sudah perlu adanya tindakan besar-besaran di kalangan orang tua dan pendidik. Bagaimanapun mereka adalah calon orang tua di masa mendatang. Bagaimanakah nasib masyarakat, bila nantinya lebih didominasi oleh orang-orang yang tidak kenal aturan?
Kita juga bisa membayangkan, betapa bahagianya orang tua yang memiliki anak-anak yang baik, yang penurut dan mau mendengarkan nasihat. Setidaknya menurut istilah agama adalah qurrata a'yun, menyedapkan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Menjadikan orang tua bangga, sekaligus memberikan jaminan kepada mereka bahwa anak-anaknya nantinya tidak akan menjadi beban masyarakat, melainkan justru menjadi kekayaan dan sumber hidayah.

BERPIKIRAN JERNIH
Anak-anak shaleh tetap berpikir jernih di saat yang lain dipenuhi pemikiran yang sarat dengan kepentingan-kepentingan. Kejernihan pikirannya karena adanya filter dalam diri. Mereka menempa dirinya dengan bentangan luas samudera al-Qur'an. Qur'an dan kandungan wahyu di dalamnya menjadi nafasnya. Mereka menyelami kedalaman wahyu itu dengan rasa yang haus. Dengan penuh rasa haus pula mereka menangguk nasihat-nasihat wahyu Ilahi tersebut.
Yang membuat sepi hatinya adalah ketika mereka merasakan mulai ada jarak dengan Qur'an. Makin jauh jarak itu akan dirasakan sebagai sesuatu yang kering dan menyakitkan, menyayat-nyayat dan menusuk-nusuk batin. Mereka menangis dan menjerit bukan karena kehilangan harta benda, juga bukan karena ada luka pada anggota fisiknya. Tapi tangisan dan jeritannya lebih terdorong oleh adanya rasa kehilangan dalam dirinya, rasa sesal terlepas dari ikatan ruhaninya.
Pada anak-anak demikian, tidak sampai rasa iri yang muncul hingga mempengaruhi tindak lakunya. Tapi kesemuanya itu dapat dikendalikan, sehingga rasa hasud, dengki, cemburu, tidak dibiarkan meletup menjadi tingkah laku yang dapat mengurangi keharmonisan dan persahabatan. Mereka telah mengasah dirinya dengan bimbingan ketuhanan sehingga dapat mengontrol dengan baik segenap sikapnya.

BERHATI BERSIH
Ketika sebagian manusia sedang asyik berdansa dan menari-nari dalam dunia kemaksiatan, anak-anak shaleh dengan tekun dan penuh khidmat membuka lembaran demi lembaran wahyu di majlis-majlis dzikir. Mereka mengkaji dan berdiskusi tentang nikmat Allah dan sunnatullah di mana saja. Lingkaran aktivitas mereka tak lepas dari masjid, di manapun masjid itu berada. Hal ini akan menambah kontrol sosial baginya, yang semakin menjauhkannya dari lingkungan yang penuh dan membawa maksiat.
Pikirannya menjangkau dunia dan mengetahui apa yang terjadi di kanan kirinya, tapi mereka tidak larut dalam kehidupan dunia yang penuh tipuan ini. Tidak terjebak pada permainan-permainan yang merusak dan membuatnya jatuh tergelincir.
Mereka memiliki rem pengendali. Ketika sedang di ladang, di pasar, di kantor, di hotel dan di manapun jua di tempat-tempat yang sepi ataupun ramai mereka tidak mudah lepas dari ikatan aqidah dan keimanannya. Mereka tidak mau menjual permata keyakinannya dengan sesuatu yang bernilai rendah. Mereka memiliki harga diri, dan dapat mempertahankannya dengan kuat.
Mereka memahami dengan benar apa yang disampaikan Tuhannya. Ayat-ayat yang telah diturunkanNya telah diterima sebagai kebenaran, bukan sesuatu yang bernilai berita semata.
Mereka meyakini bahwasannya kebenaran-kebenaran itu semestinya ditegakkan, termasuk oleh dirinya sendiri. Ayat berikut ini menjadi tadabbur untuk selalu dapat berhati-hati dalam hidupnya:
"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Kahfi: 45)
Ketika sebagian manusia bersikap tak acuh terhadap kedua orang tuanya, mereka para anak shaleh justru sangat menjunjung tinggi orang tua mereka. Saat tindakan kotor mendapatkan kehalalan oleh manusia, mereka dikaruniai akhlak yang tinggi oleh Allah dengan perangkat kemampuan selalu mengingatkan manusia kepada negeri akhirat.
"Sesungguhnya Kami telah mencucikan mereka (dengan menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manausia) kepada negeri akhirat." (QS Shaad: 46)
Mereka menyadari dengan sepunuh hati, bahwa segala tingkah laku ada pertanggungjawabannya. Dan pertanggungjawaban yang paling tidak bisa dimanipulasi adalah pertanggungjawaban di Pengadilan Tuhan kelak, ketika manusia diperhadapkan di hadapan Sang Hakim Agung Allah swt.

BERTINDAK ASIH
Karena kegemarannya kepada kebaikan, ia sangat senang melakukan amalan-amalan yang mengundang kesejukan. Kepada teman, kawan dan lingkungan yang ditonjolkannya bukan sifat arogan tapi sifat ruhama-nya, sifat kasih sayang dan penyantunnya. Sifat-sifat seperti itu yang menghiasi dirinya. Tingkah lakunya tidak memperturutkan kehendak di luar hatinya, tapi selalu melalui konfirmasi lebih dahulu dengan kata hati itu. Sikapnya sama sekali bukan untuk menari pujian dari orang lain. Semata-mata untuk menegakkan kebenaran yang telah bersarang dalam lubuk hatinya. Ia ingin sekali menjabarkan lembaran-lembaran al-Haq yang telah bersemayam itu, supaya juga dirasakan oleh segenap manusia. Sebab baginya, dengan melakukan amalan-amalan seperti itu kenikmatan-kenikmatan telah diperolehnya. Dan itu, jauh dari sekedar bentuk pujian dan sanjungan-sanjungan. Satu sunnah yang dijalankan, ada terasa satu derajat yang dinaikkan. Satu ayat diamalkan, kenikmatan-kenikmatan yang diperolehnya semakin berlipat-lipat. Karena tingkah lakunya yang serba asih ini, masyarakat merasakan benar kesejukan keberadaannya.

ORANG PILIHAN
Orang shaleh adalah orang-orang pilihan. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur'an al-Karim: "Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." (QS Shaad: 47)
Disebut orang pilihan, karena mereka telah lolos sensor dalam suatu pemilihan maha akbar yang diselenggarakan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka telah 'berhasil' memenangkan pertandingan yang digelar untuk seluruh ummat manusia. Mereka mampu melewati berbagai ujian yang berkelok dan rumit. Hasil dari ujian itu tumbuh sifat-sifat mulia yang merupakan syarat-syarat kekhalifahan berupa akhlaqul-karimah, aqidah yang tertanam baik lagi kokoh, sifat kasih sayang yang menonjol, dan budi pekerti yang mulia. Mereka dengan karakter yang semacam itu, menjadi penyeimbang kehidupan. Keberadaan mereka menjadi semacam 'jaminan' bahwa saat kiamat masih jauh.
Dunia merindukan mereka tampil melindunginya, menjaganya dari kebinasaan. Dunia yang dipimpin olah orang yang nakal adalah dunia yang rusak. Dunia yang dikendalikan oleh orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya adalah dunia yang kacau-balau, dunia yang tidak pernah tenang oleh hingar-bingar dan permusuhan.
Karena rindunya terhadap orang-orang yang shaleh ini, yang mulia Nabiyullah Yusuf as, di puncak kekuasaaanya sebagai Perdana Menteri Mesir memohon ke hadirat Tuhan, kiranya untuk digabungkan ke dalam kelompok hamba-hamba yang shaleh:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagaian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku ke dalam (kelompok) orang-orang yang shaleh." (QS Yusuf: 101)
Anak yang shaleh adalah kekayaan yang mahal. Merekalah bakal-bakal manusia shaleh setelah dewasa. Semoga sikap istiqamah kita dalam beribadah mendorong kita menuju ke arah sana. Masuk ke dalam kelompok 'ibadihish-shalihiin, hamba-hamba-Nya yang shaleh.